Kalau Sudah Begini ..

Kalau sudah begini, aku jadi ingin mendekapmu lebih erat, menikmati dinginnya angin di lereng ini. Dan bercerita kepadamu tentang hidup yang aku tahu. Dan menikmati saat-saat dimana kita bisa begitu dekat. Membuka tirai-tirai masa-masa yang sudah lewat. Darinya kita bisa berkaca. Membentangkan cermin yang memantulkan siapa kita. Mengaca pada kehebatan-kehebatan masa lampau. Biasanya kita akan bersandar di dipan dekat pintu ke balkon yang banyak angin itu. Membiarkan pintunya terbuka sedikit, dan hembusan angin itupun membawa kita kepada kesejukan yang acap menggigit.

Kalau sudah begini, aku juga ingin menceritakan hari-hari yang sedang kulalui. Apa saja yang sudah kucapai dalam hidup dan kenapa aku menjalaninya. Lantas aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tentang kenapa kita harus terpisah ribuan kilometer dan bertemu sesekali seperti ini. Dan kita harus mengulang lagi dari awal kenapa dulu kita begini. Aku akan segera berpikir keras untuk membuatmu tertawa. Agar kita segera melupakan kenapa jarak selalu bisa membuatmu menangis. Mungkin juga bukan karena jaraknya. Entahlah ..

Kalau sudah begini, aku akan memelukmu lebih erat, mendengarkan kau bercerita tentang pengalamanmu di tempat kerja, caramu yang mencereweti rekan kerjamu dan menenangkanmu dari amarahmu pada orang-orang yang biasa mengesalkan harimu. Menyandarkan kepalamu di dadaku, dan membelai rambut yang terurai menyelimuti kita. Dan seringkali sedikit angin yang berhembus akan menyibak rambutmu dan akupun menatanya kembali. Sambil menatap ke dalam beningnya matamu, aku akan ganti bercerita tentang bagaimana aku harus bersama-sama suku yang masih tertinggal. Dan bertemu dengan orang-orang yang sama sekali baru, bahkan bahasa yang digunakannya. Matamu acap membelalak dan segera banyak pertanyaanpun meluncur dari bibirmu yang menggairahkan itu.

Kalau sudah begini, aku sering menghabiskan ceritaku di bibirmu. Dan melupakan sejenak dimana kita berada. Berdekatan denganmu memang selalu membawa getar itu. Dan bersamamu aku pasti ingin menumpahkan rinduku, seperti biasanya cara yang kita kenal. Hanya saja karenanya, kita tidak bisa menuntaskan cerita-cerita. Dan bila sudah saja kitapun akan terlena. Kita akan terbuai angin yang membelai lembut kulitmu dan segera akan mengusikku untuk menutupkan selimut dari ujung kakimu. Dan kitapun menuntaskan malam itu. Tapi aku tidak akan segera tertidur.

Kalau sudah begini, aku justru akan menghabiskan malam dengan memandangi wajahmu. Terkadang mendaratkan bibirku ke dahimu. Mengawalmu sekuatku, memandangi dengkur halusmu, dan kadang aku tak tahan untuk tidak menitikkan airmata mensyukuri betapa beruntungnya aku memilikimu. Selamat malam, sayang. Selamat tidur.

[Murnajati, Lawang .. ]

Rindu bak Qays

 

image

 

Yaaa Tuhan .. 
Rindu ini bukan bohongan … 
Perih .. meski yang kubisikkan cuma Kau dan aku ..
Perih .. meski nyanyi sumbangnya tak pernah habis ..

Dan air mata yang mengalir ..
Napas tercekat ..
Tenggorokan kering .. 
Benar kataMu .. 
MerinduMu mengantarku 
Harruu
Sujjadan .. 
Wa bukiyya ..

Lindungi misykat ini ..
Lindungi lentera ini ..
Basuh kaca-kaca ..
Sinari ..
Nuurrun alaa Nuur ..

Indahkan cinta ..
Beri sperti engkau semangatkan pagi
Beri sperti engkau lenakan dinihari 
Basahi kalbu 
Aku merintih di hadapanMu

(Ashar, 22.9.2011, terpuruk, bersujud dan berlinang airmata)

Nyanyian Rindu

image

 

coba Engkau katakan padaku
apa yang seharusnya aku lakukan
bila larut tiba wajahMu terbayang
kerinduan ini semakin dalam
 
gemuruh ombak di pantai Kuta
sejuk, lembut angin di bukit Kintamani
gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir Kau Yang Manis
 
bila saja Kau ada di sampingku,
sama-sama arungi danau biru
bila malam mata enggan terpejam
berbincang tentang bulan merah
 
coba Engkau dengar lagu ini
aku yang tertidur dan tengah bermimpi
langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahMu yang bening, sejuk, segar
 
kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas Kau tersenyum?
kapan lagi kita nyanyi bersama?
tatapanMu membasuh luka
 
[Nyanyian Rindu, Ebiet G. Ade, Album Aku Ingin Pulang, 1996]

Kupinang dirimu, CINTA

image

 

Kupinang Dirimu, CINTA*)

Oleh: Rais Sonaji

Cinta,
Pernahkah sesaat dikau fikirkan,
Mana mungkin Rembulan mengada tanpa Matahari ?
Mana mungkin Matahari mendahului Rembulan ?
 
Cinta,
Pernahkah sesaat dikau renungkan,
Mana mungkin "tulang rusuk" mengada tanpa "rongga dada" ?
Mana mungkin rumah mengada tanpa ada yang mendirikannya ?
 
Cinta,
Pernahkah sesaat dikau dengarkan,
Bahwa bintang-bintang di langit senantiasa bernyanyi riang,
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Mana mungkin "Ikan" mengada tanpa "Air" !
Yakinlah padaku Cinta-ku,
Bahwa seluruh Kerajaan Bumi ini tak lebih berarti dari sebutir gandum,
Mari kita bangun Kerajaan Tersembunyi !
Kerajaan kita yang sejati,
Mari kita bangun sejatinya Peradaban Aquarius !
Dan sungguh !
Aquarius tidak akan pernah sempurna tanpa Pisces !
Bukankah harapanmu ingin menyumbangkan "sedikit saja" sesuatu yang berarti
dalam hidup ini ?
Mari Cinta, kita wujudkan mimpimu, mimpiku dan mimpi-mimpi mereka.
 
Cinta,
Pernahkah terlintas di fikiranmu tentang sebuah kemungkinan,
Bahwa engkaulah Maha Dewi itu !
Bahwa engkaulah Putri Salju itu !
Bahwa engkaulah Nawang Wulan itu !
Dan ketahuilah, akulah si pemimpi itu !
Joko Tingkir yang berhasrat mencuri selendang putihmu !
 
Cinta,
Pernahkah dikau rasakan,
Sejuknya angin fajar membelai lembut wajahmu ?
Yakinlah padaku,
Itulah hembusan nafas cinta dan kerinduanku padamu,
 
Cinta,
Kumohon padamu sekali lagi,
Bukalah dan tajamkan mata hatimu,
Sungguh aku tak kan pernah bosan menunggu,
Karenamu aku tlah belajar tuk lampaui ruang dan waktu.
 
Cinta,
Mohon tatap lekat-lekat kedua bola mataku,
Dengar dan rasakan degup dan gemuruh jantungku,
Eja-lah setiap huruf yang meluap dari kedalaman samudera hatiku,
Bacalah setiap kata yang jatuh satu-per-satu di bibirku.
 
Duhai Cinta-ku,
Duhai Cahaya mata-ku,
Mohon tatap lekat-lekat kata-kata ini dengan kejernihan dan keindahan matamu,
Asal mula adalah Salju, sebelum tercipta Waktu,
Ingatkah engkau ?
Sungguh aku sepenuhnya sadar bahwa aku tengah bermimpi !
Engkaulah "Salju" itu dan akulah "Waktu" yang merangkak letih di permukaan
Bumi,
Inilah sejatinya dongeng yang pernah dituliskan-nya untuk kita.
Ingatkah engkau ?
Dan sungguh ! kukatakan padanya,
Aku tak ingin ini hanya sekedar kenanaran mimpi !
Bersama Dia dan bersamamu,
Dengan cinta Dia dan dengan cinta kita kepada Dia,
Aku yakin kita mampu mewujudkannya di Bumi ini,
Tentunya, semua itu hanya akan mewujud dengan kuasa, kehendak, perkenan, serta ridha-Nya.
Mohon mengertilah…, mohon percayalah…,
 
Kumohon padamu Cinta-ku,
Sebelum semua cerita kehidupan ini usai,
Sebelum semua tirai sandiwara kehidupan ini disingkapkan,
Sebelum semua epos kehidupan ini diakhiri,
Mari kita sempurnakan semua itu,
Agar dunia bersama kita dapat belajar untuk mengetahui,
Bahwa semua adalah satu !
Agar dunia bersama kita mau menyadari,
Bahwa ketulusan dan kesederhanaan Cinta di atas segalanya !
 
Cinta,
Pesanku terakhir padamu,
Mohon baca, lihat, dengar dan mengertilah,
Belajarlah untuk memahami bahwa tidak ada istilah "kebetulan" dalam hidup ini,
Semua tanda, semua huruf, semua puisi, semua nada, semua lagu, semua drama, semua film dan semua yang mengada kini tertuju hanya padamu.
Akulah Angin dan Engkaulah Api !
Cinta,
Jika benar engkaulah "ikan" yang selama ini ku cari,
Maka engkau akan mengetahui, akulah "samudera" yang senantiasa kau nanti.
 
Cinta,
Dimana pun jua engkau berada,
Sungguh telah kukirimkan semua tanda dan pesanku padamu,
Duhai Cinta-ku,
Duhai Maha Dewi-ku,
Duhai Belahan Jiwa-ku,
Duhai Bintang Jatuh-ku,
Duhai Putri Salju-ku,
Akulah tapak Sang Waktu yang berjalan mengitari wajah Bumi,
Akulah Waktu yang terduduk bersimpuh di antara subuh dan kilat senja,
Akulah Waktu yang berharap sebelum kebinasaan mutlak,
Salju kan turun kembali menghapus segala rupa,
Akulah pasir yang berbisik lirih padamu,
Bahwa mutiara terpendam harus segera diungkapkan,
Marilah, Oh duhai separuh jiwa-ku,
Kita sempurnakan semua puisi, semua syair, semua lagu, semua cerpen, semua drama, semua dongeng, semua sandiwara, semua film, semua buku, semua kitab, semua filsafat, semua agama, serta semua evolusi di muka Bumi ini.
 
Cinta,
Melalui wujud penyatuan kita ini.
Mari kita satukan dua kepingan cermin yang tlah lama terpisah,
Mari secara perlahan kita kilapkan cermin Bumi ini,
Agar wajah Rembulan kembali memantulkan cahya Matahari,
Yakinlah, bayangannya kan menyibak kegelapan yang menyelimuti Bumi,
Mari, mari Cinta-ku,
Mari kita sama-sama belajar untuk memahami seuntai kata rahasia,
Tiada daya dan upaya, kecuali dari dan milik Dia,
Mari kita sama-sama belajar untuk menyadari sebait puisi murni,
Sesungguhnya kita berasal dari-Dia dan akan kembali pada-Dia,
Meskipun sungguh sedikitpun kita tak punya kuasa,
Namun dengan kehendak, kuasa, ridha, serta perkenan-Nya,
Melalui, di dalam, dan bersama-Nya,
Secara perlahan mari kita sama-sama belajar berlayar dan berusaha menyelami samudera kehidupan,
Semoga akhirnya keberuntungan membawa kita pada Mutiara Yang Terpendam.
 
Cinta…,
Demi Dia, Dzat Yang Membelah batu hingga menetes air mata Cinta,
Aku datang bersimpuh memohon padamu dengan hati berlumur darah Cinta,
Kupinang engkau,
Atas dasar kecintaanku pada Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, kefakiran absolut-ku dihadapan Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, kebodohan absolut-ku dihadapan Dia.
Kupinang engkau,
Dengan mahar, sebuah "Cincin Sulaiman" tanda bulat dan utuhnya keyakinan-ku,
Bahwa engkaulah pasangan sayap jiwa dan ruh-ku yang sejati,
Sungguh ! sulit bagiku tuk sampai pada ketinggian dan keagungan kursi-Mu
hanya dengan satu sayap,
Dan jika engkau sudi untuk bermurah hati tuk menjadi istriku nanti,
Maka aku akan senantiasa memohon padamu Cinta,
Singkapkan kain kebaya yang menutupi "betis" putih indahmu itu !
Dan jangan kau hiraukau jika aku terkapar pingsan beribu-ribu tahun karenanya !
Cinta,
Saatnya kututup puisi ini,
Dan kuajak engkau bersamaku bersimpuh dan memohon pada-Nya,
Dia Yang Maha Esa,
Dia Yang Maha Pecinta di atas semua pecinta,
Dia Yang Maha Lembut di atas semua yang lembut,
Dia Yang Maha Menyatukan segala yang terserak,
Semoga kiranya kehendak, kuasa, ridha dan cinta-Nya luruh dalam puisi pinangan ini.
Dan, dengan perkenan-Mu,
Kupintakan angin senja dengan lembut untuk menyampaikan pinangan ini padamu,
 
Dengan untaian kata,
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantaramu.
Dan orang-orang yang tidak mampu menjaga dirinya.
Sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Cinta,
Kutunggu, dan sungguh akan selalu kutunggu jawabmu,
Sebagaimana seluruh seisi semesta alam pun senantiasa setia menunggumu.
Dan sudah selayaknya kita sepenuhnya yakin, bahwa Matahari tak kan pernah ingkar janji.
Amin ya Rabbal a’lamin.

[Bumi Allah, menunggu fajar datang. 17.04.2007. 01.30. WIB.]

*) Puisi ini secara tidak langsung "diilhami" melaluimu maha dewi-ku dan melalui segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaanmu. Sungguh, seyogyanya engkau tahu pelita-ku, "You’re The Inspiration" ! Bagi saudara-saudara penyair yang merasa kata-katanya telah dicuri, ketahuilah akulah plagiat murni itu, maka jika mau menuntut, maka janganlah pernah merasa bimbang dan ragu, tuntutlah diri-ku.

Duhai Engkau, Ya Maha Pengatur, Ya Maha Lembut, Ya Maha Pengasih, Ya Maha Pengampun, hanya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala isi hati seluruh mahluk-Mu, meski beribu puja-puji kami curahkan pada dewi bumi-Mu, namun pada hakikatnya hanya Engkau-lah satu-satunya tujuan dan Cinta Sejati kami. Selamatkan kami dari tipu daya-Mu ya ar-Rahman.

Duhai Engkau Yang Maha Kaya, jauhkanlah kami dari tindakan menjual atau (bahkan) menggadaikan firman-Mu hanya demi keuntungan duniawi yang sesaat ini. Karena dengan izin-Mu kami meyakini Keajaiban-Mu, maka kami memohon pada-Mu, jadikanlah Keajaiban itu. Maka dengan segala kepenuhan kerendahan, kebodohan, dan kefakiran kami di hadapan-Mu. Kami memelas dan memohon pada-Mu, sudilah kiranya Engkau berkenan untuk menenggelamkan kami dalam lautan ampunan, rahmat, ridha, serta cinta-Mu. Amin.

=====

Sungguh sayang kalo sampai puisi sarat muatan Cinta seperti ini lepas dari pandangan mata. Karenanya biar sekalian terlihat oleh banyak mata. Ditempel saja sekalian disini. Demi melengkapi ungkapan diri Qays kepada Layla. Mohon maaf kang Rais Sonaji

[ draguscn ]

Monolog Rasa Rindu

image

 

Lantas bagaimana bila memang aku memagarimu dengan beribu tanya. Dan terhenti di ketiadaan. Dan menunggu. Pada saat kekosongan itu datang, dan batinku ikut centang perenang. Dan membuatku berdiri, di dalam pagar yang kubuat sendiri. Mungkin kita memang harus mencerna ulang remah-remah yang sudah terlanjur ditabur. Mungkin beberapa tumbuh menjadi lumut dan jamur. Tapi ada yang berkembang menjadi mawar dan melati. Sebagian bahkan jadi palawija yang subur. Bukankah secara kewajaran memang mungkin saja terjadi. Dan patut dipersembahi rasa syukur.

 

Mari kita bicara rasa. Kau selalu menghindar bila aku memulainya. Dan tidakkah kau ingin kenal dengan berbagai jendral yang berlaga. Mereka bergumul, bermain dan tertawa. Kita juga seperti mereka dan kita pada akhirnya harus tertawa. Mengertikah kau kenapa kita harus bahagia. Bukan karena lingkungan di sekitar kita. Bukan karena benda-benda. Bukan karena kita memilih bahagia di atas derita. Tapi karena ia yang datang kepada kita. Sebagai salah satu tentaraNya. Dan bersemayam mengatur tatanan hati kita. Bertahta diatas singgasana. Memerintahkan mulut tersenyum, mata berbinar, telinga meramu harmoni, dan seluruh kulit bergeletar dengan senangnya. Jadi bagaimana dengan upaya kita. Lingkungan indah, benda-benda mewah dan apa-apa yang sudah kau taruh dalam wadah. Mungkin akan mengajak sang prajurit untuk datang. Mungkin ia malah menghindar dan pulang. Tersisalah kau dalam rasa gamang.

Kenapa kita bicara bahagia. Mungkin karena menanam jamur dan mawar bersamamu menimbulkan rasa. Melihat palawija yang tumbuhpun seperti memanen karsa. Ada berbagai warna. Dan menjadikannya pelangi alangkah indahnya.

 

Jika bahagia adalah serdadu kiriman dan kini ia yang bertahta. Apakah kau akan pergi kepadanya. Menasehatinya untuk kembali ke haribaannya. Memintanya tidak berada di atas singgasana. Dan menjauhkanku dari tersenyum, berbinar, berharmoni dan bergeletar dengan senangnya.

Bukankah kau memiliki kerajaanmu sendiri. Yang didatangi kesatria-kesatria rasamu sendiri. Apakah ia yang bertahta disini, sebegitu mengganggu kerajaanmu. Apakah rasaku yang membuatmu malu. Dan kalau kau tahu ini bukan kerajaanmu, kenapa kau yang ingin mengatur segala sesuatu. Biarkan kerajaanku dan kerajaanmu. Mereka mengatur siapa tentaranya, siapa yang pulang sebagai ksatrianya. Biarkan mahkota rasa bertahta tanpa sengketa. Di masing kerajaan kita.

Meski kemudian ada secuplik taman bunga. Yang tumbuh subur diantara kerajaan kita. Dimana jamur, lumut, mawar, melati dan palawija. Mungkin sedikit air untuk melepas dahaga. Tersedia bagi kafilah-kafilah penabur rasa. Berjentera, berzirah dan menunggang kuda. Membawa beberapa lentera. Mendirikan kemah-kemah dan bertukar cerita. Kisah rindu dan dongeng cinta. Sampai nanti fajar tiba.

Bisakah kau wadahi gerimis rinduku …

Kalau saja kau tahu ..
Untuk menahan teriknya rindu ..
Mengering isi samudera biru ..
Menggelepar penuh sinar dari tubuhku ..
Dan serabut syauq berkilauan tak kenal waktu ..
 
Semalam kutemukan kepingan tubuhmu disana ..
Dan dian yang kau dekap sudah tak menyala ..
Beranjaklah kesini melelap didalam dekap ..
Menyusun mimpi dan menghilangkan ratap .
 
Mendekat kepadamu memang sudah dimaklumi
Hangus terbakar kasihmu yang tak bisa kuwadahi ..
Meski mata buta dan tubuhku menjadi abu ..
Serpihannya akan tinggal di dalam relung kalbu
 
Kini si hati lapang mengusung sinarmu ke barat ..
Meninggalkan jejak bisu yang nyaris sekarat ..
Meski kutahu kau ingin mengobati penat ..
Jangan berhenti bersinar setiap engkau dapat 
 
Akupun akan pergi ini hari ..
Bertapa sejenak di Sungai Pekalen Bawah ..
Aku kan bertemu penyihir-penyihir pagi nanti ..
Kami akan beradu mantera, laga dan kisah-kisah ..
 
Aku titip segumpal bara di dadamu ..
Jaga agar apinya tak padam ..
Aku bawa beberapa potong di dadaku ..
Kita kumpulkan lagi besok malam ..
 
Mari bersama merapal mantera dini hari
Ikut di barisanku dan arahkan diri
Satu biduk menuju kembali
Hingga rindu kita azali
 
Daun-daun mangga yang terlalu rimbun ..
Menggesek genteng yang mulai berembun ..
Hati yang lelap di ujung malam perlahan terbangun ..
Menanti belahannya yang darimu datang menuntun
 
Hijab cahaya terburai ..
Dan hati yang tersinari menyongsong pagi ..
 
Sinar mentariku masuk melalui jendela
Menyinari tubuh lelah yang beranjak tak rela
Bersinarlah dan tetap memberi cahaya
Indah semburat mencinta dan dicinta
 
Kasih ..
 
Kalaulah kita sebiduk sebahtera ..
Dimana adinda bersimpuh bercerita ..
Mari mendekat duduk bersama ..
Meronce manikam dari rindu membara ..
 
Atas nama jiwa dan raga dan dia ..
Kuingin kau yang bertahta disana ..
Kutata karena ingin menyambut kehadiran ..
Kurapikan karena biasanya kau porak-porandakan ..
 
Saat Cinta berada di singgasana
Lidah kelu tak mengucapkan ..
Pena bergetar, tulisan tak terpatrikan ..

[draguscn - 15.09.2011 - kompilasi rindu, mencoba mengikuti gaya tulisan GUMAM ASA]

Kau Tahu Kan?

PoohKau tahu aku sangat sayang kepadamu .. apakah rasa sayangku begitu menakutkanmu? Aku bukan beruang grizzly yang akan mengamuk bila tidak bertemu makanan. Lihat aku sebagai Pooh yang suka dengan madu yang manis. Aku akan diam di pojokan, mencicipi sedikit harimu, dan senang melihatmu bersinar begitu indahnya. Dan akan ikut murung, termangu bila kau kehilangan arah. Tapi jangan takuti rasa sayangku. Itu gratis. Aku tidak meminta retribusi darimu. Ia tidak memerlukan pajak pelayanan dan cukuplah baginya mewarnai sedikit harimu. Sulitkah itu?
Kau tahu aku akan selalu menggandeng hatimu. Meski sekarang kau merasa gamang, aku akan tetap mengulurkan hatiku sampai kau tahu disana aman. Tempat kau berteduh saat gerimis. Bermain di pagi hari yang terang. Berselimut nyaman pada saat malam. Janji? Bukan, aku juga tidak tahu apakah suatu saat hatiku akan gundah dan justru meminta berteduh, bermain dan selimut malah kepadamu. Maukah kau sedekat itu kepadaku?

Kau tahu kalau kau dekat aku, seluruhku bergetar menyambutmu. Melupakanku akan duniaku, hanya satu keinginan dan itu adalah bersamamu selalu. Penuh getar kerinduan. Kecintaan. Nafsu? Mungkin. Terkadang memang ada sebagian dari diriku yang secara otonom memasrahkan pada gairah yang memuncak hanya untuk memilikimu. Apakah ini mengekangmu? Tapi kalau aku tidak punya hasrat kepadamu bukankah itu tidak lebih dari sahabat yang memperhatikanmu. Aku ngga ingin jadi sekedar sahabat kok. Dan memang aku punya itu. Salah? Tergantung. Menakutkan? Apa aku kelihatan seperti akan menerkammu? Kalau kau memang merasa seperti itu, maafkan aku, terus terang memang kadang-kadang itu yang kurasakan. Tapi aku kan cukup sopan untuk tidak melakukan. Ada ratusan cara menyatakannya bahkan tanpa harus menyentuhmu.

Kau tahu aku begitu memperhatikanmu .. setiap detil yang bisa kutahu ingin kubahas bersamamu. Apakah aku terlalu memaksamu? Apakah kau benar-benar terpagari? Aku akan diam kalau kau tidak ingin bercerita. Dan kita duduk-duduk saja di atas papan-papan jembatan. Memandang ke arah Laut Jawa. Tapi jangan kau hentikan aku untuk memperhatikanmu. Toh aku ngga akan minta kau mengkavling pinggir laut ini. Aku cuma berdiri di tempat ku. Memangnya perhatianku bisa menusukmu dari sini? Terasa perihkah diperhatikan? Sulit sekalikah menerima perhatian .. Dan kalaupun kau buat batas-batas wilayah, kau tetap tidak bisa menghalangi perhatianku padamu. Nekat ? Bukan, ini komitmen. Kau akan banyak belajar kelak.


Paket lengkap kan? Gairah, Kedekatan dan Komitmen? Dan masih ada bonus lagi ditengah-tengahnya .. Rindu, Mencinta, Bertemu, Cemburu, Kehilangan, dan semua maqom rasa yang akan bermunculan untuk mendewasakanmu. Apa lantas semuanya akan beres? Entahlah, aku tidak pernah punya pikiran yang diberat-beratkan. Kalau kurasa aku mencintaimu ya kubilang gamblang aku mencintaimu. Dan kayaknya itu kau tahu sudah berulang-ulang. Terus kenapa harus kujelaskan? Karena aku ingin kau tahu dimensinya. Bukan hanya satu kata. Apa dengan begitu akan membuatmu mencintaiku? .. itupun entahlah, aku tidak menjabarkannya untuk itu  ..
Kau tahu kan ?