Kalau bunga yang sama tidak mekar ..
Apa karena matahari yang tidak membakar ..
Dua belas purnama hanya untuk belajar ..
Rasa adalah pemberian Sang Maha Besar ..
Kalau dingin, temani aku meramu malam ..
Kalau temaram biarkan lilin kecil ini yang jadi penerang ..
Sambut aku esok pagi
Masih aku ..
Dan kebebalan yang sama
Dan kenakalan yang tak berbeda
Dan wajah serupa meski sepintas ..
Sebelas Dua Belas ..
Monthly Archives: December 2011
Sebait Puisi Sehari (Project #366)
Saya ternyata produktif juga bikin puisi. *memuji diri sendiri wajib bila tidak ada pujian orang lain* wekeke .. Tahun 2011 kemaren beneran banyak saya bikin tulisan dengan bentuk puisi. Mulai yang sebait-sebait saya kumpulkan sampai dengan yang panjang-panjang dan bikin sebel yang ditag .. hehehe ..
Tapi ini jadi mengilhami saya untuk bikin semacam catatan Daily Post dengan bentuk sebait puisi sehari .. dengan demikian 366 hari saya akan punya 366 bait puisi. Kalo kebablas beberapa bait ya minta maaf aja yach .. namanya juga lagi bersemangat ..
Jadi kenapa dipakein gambar Rumi .. sekedar menyatakan rasa kagum dan keinginan melihat Keindahan dengan kemampuan menuangkan seperti beliau. Aamiin.
Krejengan, 31 Desember 2011

Rasa Hilang Berlayar, Coba Bandingkan Kabar..
Ada saat dimana diserang suntuk!
Datang padaku bersama kantuk
Kening berkerut coba meraba bentuk
Tawapun hilang berganti batuk .. uhuk uhuk ..
Rasa mabuk terasa langsung di gelas
Di bulan Desember yang keduabelas
Di kapal layar kecil yang juga tak jelas
Di alam sana ia diberkas ..
Mata nanar pikiran berbinar ..
Tiada teringat hingga menjelang ashar
Wadah berpelita menampak di dasar..
Makin besar api semakin terasa berdebar ..
Pejamu berpindah terkena duri ..
Melengkapi kesialan meradang hari ..
Sejatimu entah siapa yang kau cari ..
Melupakan dirimu yang tiada sadarkan diri ..
Buat Yang Tercinta, Ibu ..
Seorang ibu baru keluar dari kamarnya ..
Kepalanya masih sakit ..
Tekanan darahnya naik sedikit ..
Mungkin karena waktu tidurnya makin menyempit ..
Seorang ibu baru keluar dari kamarnya ..
Rautnya berkerut lelah ..
Banyak sudah sejarah yang ia rambah ..
Tiada jua ia mengaku resah ..
dan senyumnya yang tetap merekah ..
Seorang ibu baru keluar dari kamarnya ..
Aku mencium tangannya ..
Kedua pipinya ..
"Selamat Hari Ibu" kuberkata
Ia bahkan lupa seharusnya hari itu apa
Ia bahkan segera mencari yang ia bisa tata
Ia tidak melihat sebulir air mata ..
Kuusap cepat agar tak terindera ..
Tanda sayang yang tiada bisa diribu dilaksa..
Tanda cinta pengganti derita ..
Meski tiada jua ada bandingnya ..
Krejengan, 22 Desember 2011
Tiga Matahari
KENANGAN
Kalau ada hal yang paling aku suka sekaligus paling aku tidak nyaman karenanya adalah apa yang kita sebut sebagai kenangan. Terlebih yang ada kamu didalamnya.
Saat itu, aku jadi panitia Dies Natalis dan kau adalah undangan dari SMA-SMA yang mengadu lomba merdunya suara melantunkan ayat-ayat kitab suci. Kita bertemu sekilas. Dan aku tak menyangka kau akan jadi adik kelas yang paling memberi banyak memori dalam kehidupanku sebagai mahasiswa.
Tentu saja kita berkenalan lagi sudah beda situasi. Banyak yang segera melihatmu dengan kecemerlanganmu itu. Dan tak sedikit yang segera punya inisiatif untuk bertindak nyata. Aku juga menyukaimu. Tapi waktu yang kemudian mengubah rasa suka menjadi sesuatu yang luar biasa.
Masih ingatkah kau ketika menengokku yang sedang sakit. Mungkin disanalah akhirnya kita bisa jadi satu. Entah harus bersyukur atau sebaiknya mengutuk kepada teman yang waktu itu menemanimu ke kosku.
Well, kurasa perjalananku kumulai disini.
I LOVE YOU
Kata aku mencintaimu hampir tidak pernah kita ucapkan. Entah mulutku yang kelu atau memang kenyataan mencintai belum sepenuhnya ada. Apakah kita selama itu hanya terjebak dalam passion.

Entahlah, aku memang sepertinya tidak terlalu kenal dengan yang namanya cinta waktu itu. Yang kutahu bila aku dekat denganmu aku senang, aku bahagia. Aku bisa menikmati hari. Dan kita akan segera mengulas banyak rencana untuk hari itu. Dadakan atau sudah lama kita rencanakan selalu asyik bila kita sudah mulai mencari-cari apa saja yang bisa kita nikmati.
Tak lupa ritual magis bersentuhan tangan, yang tiba-tiba tak tertahankan itupun mewarnai pertemuan-pertemuan kita. Kebanyakan di tempatku. Tak banyak yang bisa mengganggu kebersamaan kita disana. Oya.. masih ingatkah kau kita punya KHB. Kue Habis Bercinta. Itu cuma Cracker Biscuit yang memang selalu ada di tasmu. Kau bawa itu tiap waktu karena gastritismu. Tapi seringkali kalau sudah itu, aku yang akan menghabiskan kue itu paling banyak. Bahkan di swalayan kita sering saling minta mengingatkan untuk beli KHB. Kau akan tertawa manja kalau sudah begitu, dan aku akan mengusap rambutmu. Dan segera banyak pasang mata iri melihat kita.
Itukah bukti cinta? Entahlah .. setidaknya tiap dekat denganmu aku senang luar biasa.
JEALOUSY
Cemburu juga selalu jadi warna kenangan kita. Dan kalau bicara cemburu, tampaknya aku yang selalu terbakar. Entah karena kau memang orang yang pantas untuk dicemburui atau karena memang pada dasarnya aku adalah orang yang sangat pencemburu.

Bicara tentang cemburu, ini yang selalu bikin kenangan jadi menyebalkan untuk dikenang. Kalau saja memutar waktu bisa dilakukan, mungkin momen-momen cemburu yang selalu berujung pertengkaran dan kenangan pahit itu, bisa kita delete bersama dan kita ganti dengan “kita baik-baik saja”.
Ingatkah kau, waktu kau ikut menghadiri konferensi mahasiswa se-Asia? Di mana waktu itu? Bangkok? Semua cerita yang kau tuliskan lewat email tentang keindahan kota, tentang ramainya acara, tentang majunya perkembangan pengetahuan disana seakan lenyap begitu kau bercerita ada yang selalu menemanimu minum kopi di pojokan tertentu kota itu, bersamamu duduk mendengarkan materi, menjemputmu dari tempat menginap ke gedung acara. Seminggu yang paling menggelisahkan yang pernah kualami. Terlebih lagi, ternyata mahasiswa dari Semarang itupun nekat mendatangimu di kelas waktu kau sudah di Jakarta.
Apa yang kau lakukan disana? Apa yang kau ingat tentang hubungan kita? Apa aku bisa percaya yang kau ceritakan begitu saja? Kenapa setiap kali aku mencemburuimu, selalu ada sequele dan itu seakan-akan membenarkan prasangka?
Cemburu bukan kenangan yang nyaman untuk dikenang.
RUMAH HARAPAN
Diatas bangunan hubungan dua insan selalu ada harapan untuk singgah di bawah atap yang sama. Dan bisa menata setiap pernik, setiap perkakas dengan cinta milik bersama.

Begitu juga kita. Kita punya tempat pergi dari kesibukan Jakarta yang penuh sesak dengan manusia. Kepada sesuatu yang hijau, sendiri dan damai. Di sana rumah imajiner kita.
Ingatkah kau, kita selalu memimpikan menata tamannya dengan cukup banyak tanaman dan menjadikannya warna-warni. Dan aku akan menimpali dengan menambahnya dengan berbagai mainan anak-anak, ayunan, jungkat-jungkit. Dan kita akan segera mengingat berapa banyak mereka yang akan berlari-lari kecil di dalamnya. Sekarang rumah itu tinggal sedikit sudut kenangan di hatiku, aku tidak tahu apa masih membekas di hatimu atau tidak. Yang jelas tanah lapang yang pernah kita impikan, mungkin sekali sudah tidak ada dengan bertambahnya orang begini ..
Kalau malam kebetulan cerah, rumah idaman itu ada di bintang yang paling terang yang bersinar di sudut sana.
PELANGI DAN MATAHARI
Walaupun kita bisa ribut sekali bila ada pelangi, Ia tidak pernah jadi bagian dari kenangan kita. Memandangi senja turun lebih sering kita lakukan daripada menemukan pelangi. Apa mungkin karena di Jakarta tidak lagi kebagian jadwal hadir pelangi?

Dulu sekali aku pernah menggemari pelangi. Denganmu tidak lagi.
Di sebuah laboratorium fisika – kembali ke masa kecil dulu – ada alat untuk menghasilkan pelangi terfokus kemana dengan warna apa. Ya, gradasi pelangi bisa dikurangi menjadi hanya beberapa. Entah apa dan bagaimana dulu itu. Yang jelas dalam kenanganku tidak ada pelangi. Setidaknya denganmu.
Kehidupan kita yang seperti pelangi. Indah sebentar, dan tak tahu kapan akan ada lagi keindahan seperti itu. Tapi pada saat ia mengada. Aku bisa menikmatinya. Mestinya pelangi kita kreasi saja. Sehingga kehidupan kita pun bisa indah setiap saatnya. Sayangnya pendewasaan ‘membuat pelangi’ baru setelah lama aku alami.
Bersamamu mungkin lebih bermakna matahari. Pagi muncul, siang menyengat, sore meredup, senja terbenam, malam tiada. Pagi aku selalu bisa menyambutmu dengan kegembiraan – baik itu dari persediaanku sendiri atau yang kau bawakan dalam besek-besek penuh cinta. Siang selalu – hampir selalu – ada saja yang kita masalahkan. Sejak hubungan kita tidak bertemu restu, sampai restunya ada tapi hubungannya yang tidak ada. Sore adalah waktu bermanja. Dan saat senja kaupun kembali ke tiada.
Pelangi? Aku tidak tahu. Tapi matahari, tampaknya mirip perjalanan kita.
GERHANA
Gerhana bukan bagian dari benda-benda semesta, ia cuma kejadian. Kalau bulan dan matahari tidak menuai janji bersama, gerhana tak kan terjadi.

Kejadian tidak menyenangkan seharusnya memang sesingkat gerhana. Matahari terhenti menyinari bumi, dan hanya memberikan perhatiannya pada rembulan yang datang sekali-sekali. Begitu juga dirimu. Saat kita mulai sering bertengkar itulah yang terjadi. Kau sudah punya sesiapa untuk bersinar di malam-malam, dengan sinar yang justru berasal darimu. Sesekali kau akan sama sekali tidak terlihat. Itulah kejadian kita.
Denganmu aku rutin mendapat gerhana. Selalu saja ada alasan dimana kau bisa menikmati sinar bulan. Dan itu tanpa aku disampingmu. Gerhana begitu banyak mewarnai perjalanan kita. Aku yang bodoh tidak melihatnya.
Malam itu paling celaka. Entah kenapa aku seposesif itu dulu. Aku yang sekarang tidak lagi. Tapi maaf memang bukan kau yang ada di sini. Aku rela menguntitmu kemana kau pergi. Sepanjang jalan-jalan ibukota. Sepi. Sendiri. Dan berujung penyesalan mengetahui keberadaanmu dimana – bersama dia. Malam itu kita berpisah. Dan kurasa yang terluka bukan cuma kita. Seseorang yang tak berani lagi hadir dengan jumawa sudah menyimpan guratan yang sama.
Gerhana dan kemunculannya yang berkali-kali adalah penyebab perpisahan kita. Itu hanya kejadian. Tapi aku menyesal tidak berada jauh semenjak gerhana pertama kali. Sekarang toh tidak ada gunanya lagi. Selamat berjalan beriringan, Mentari dan Rembulan.
MERINDUMU
Berpisah dengan orang yang sudah senapas selama sewindu ternyata bukan hal yang mudah .. Bayangan kemesraan yang sudah dilewati bersama bukanlah hal yang begitu saja dapat digantikan dengan bayangan lain yang lebih kabur hadirnya dibandingkan sisa bayanganmu sekalipun.

Sejak Resepsi Hari Minggu, rasanya sudah tidak ada lagi kesempatan yang memungkinkan kita bertemu. Kau sudah jadi miliknya. Kata yang sama-sama dulu kita sepakati tidak ada. Milik. Mungkin itu sebabnya kau tidak pernah jadi milikku. Katamu biarlah semuanya berjalan apa adanya. Kita tidak saling memiliki dulu. Dan nanti waktu yang membuktikan aku jadi milikmu. Tidak begitu kenyataannya. Kita sempat saling memiliki tapi semu. Dan gerhana demi gerhana menjauhkanku darimu. Dan makin menjadi miliknya.
Berminggu-minggu sejak peristiwa Gerhana terakhir itu, kita masih sering terseret cumbu mesra terlarang yang tak sanggup kita berdua kendalikan. Kau diam saja ketika aku memintamu. Bahkan ketika mengantarkan satu undangan perkawinanmu kepadaku kita masih sempat lupa diri. Bagaimana mungkin bayangmu pergi sementara dirimu hadir didepan diri ini.
Mungkin itulah sebabnya sekarang aku dipasung rindu. Setiap denyutnya bagai sembilu di dadaku. Berapa kali kurelakan diriku tidur dengan meminum beberapa butir obat-obatan. Tak ada hasilnya. Sesaat menghilang dan kemudian timbul lagi. Beberapa teman berusaha menghiburku. Mengajakku berkelana. Mengajakku ke keramaian. Tapi sepi yang kutemui di sana makin menggigitku. Aku terpuruk karena rindu.
Sampai cahaya itu datang dengan sendirinya. Entah ia asalnya darimana. Bersinar tanpa diminta dan batinku tiba-tiba jernih melihat ragaku yang tampak berantakan. Akupun tertawa. Cahaya timur itu mengajariku untuk segera menatap pagi. Karena sudah banyak yang tertinggal dalam pencapaian. Pengajaran demi pengajaran. Aku tetap bebal kemudian. Tapi satu yang tak ada lagi. Dirimu. Bahkan bayangmu. Berapa kali fotomu yang masih memenuhi album hidupku terlihat. Tapi sudah tidak sama. Maaf, kau sudah tidak ada.
T A M A T
Ikuti banyak kisah lainnya di Blog Tiga Matahari.
Matahari Di Kejauhan
Meski lelah ku kan kembali ..
Hati yang samakah yang kan kujumpai ..
Meski mataku tak sama melihatmu lagi ..
Masih ada pembeda yang tertanam di dalam diri
Saat ku tiba kelak ..
Lihatlah dari kisi jendela yang berwarna hijau itu
Bermekarannya bunga di jalan yang kulalui
Dan za’faran menyebarkan hingga ke dalam sendi
Biarkan dirimu kurengkuh sekali lagi ..
.. dan kau tlah bersandar di bahu ini ..
.. dan kugandeng tanganmu seringkali..
.. dan kugenggam jemarimu tanpa bisa kuhitung lagi ..
.. dan kubakar seluruh energi
.. agar menjadikan geletar jantungku panas membakar bumi ..
.. agar kulihat rona kemerahan lagi di pipi
.. agar kuyakini segenapku meliputimu abadi ..
berlebihankah jika itu pula yang kuingini ..
Rinduiku juga dalam bening malam …
.. tak kan kau kira betapa hatiku bersinar dalam temaram
.. dan setiap bulir air mata laksana mutu manikam
.. menghiasi tiap mimpi
.. mengawali tiap pagi
.. mencandai siang hari
.. hingga kembali merajut ronce permata dinihari
.. di setiap doa yang terajut
.. di setiap sujud yang terhanyut
Kala itu, kutunggui rindumu .. karnaku tak mau rindu sendiri ..
Krejengan, 2011